Menulis: Merantai Kebodohan?
*Tulisan dimuat di Qureta (11 April 2022). Salah seorang punggawa Islam (Imam Syafii) pernah berkata, ilmu itu laksana buruan, sedang menulis laksana ikatan (tali) yang berguna untuk mengikat buruan (ilmu). Lantas apakah benar dengan seutas tali kita benar-benar mampu mengikat buruan? Bukankah ikatan (simpul) yang hendak digunakan tanpa dibekali oleh ilmu dapat berujung lepasnya buruan atau menciderai, bahkan membunuh buruan? dan mempertahankannya sama saja dengan mengikat kebodohan? Menyoal menulis tidak dapat dipisahkan dengan kemampuan bahasa, bahasa dibedakan menjadi dua di dalam optik Goenawan Mohamad. Pertama, bahasa sebagai komunikasi yang berarti pengaplikasiannya terikat dengan konvensi atau aturan. Kedua, bahasa sebagai ekspresi berarti pengaplikasiannya mengikuti apa yang ada di dalam bahasa tersebut. Acapkali padanan bahasa yang ciamik dalam berkomunikasi melalui tulisan sama halnya dengan resep keluarga yang mencirikan keunikan setiap menu santapanny...